Berita Islam - Portal Berita Islam Online, Berita Dunia Islam Terbaru
Kirim Pertanyaan Punya pertanyaan ? Kirimkan pertanyaan kamu dan temukan solusi dari teman yang lain.

Pertanyaan : Sejarah sastra populer ?

  1 Jawaban - Pertanyaan Favorit
  1. #1
    Guest
    jelaskan apa yang dimaksud sastra populer

  2. + Jawab Pertanyaan
  3. #2
    Menurut Nenden Lilis sastra populer muncul dan menempati kurun waktu tertentu yang disetiap kurun waktu itu menunjukkan ciri-ciri yang khas. Dari kekhasan setiap kurun waktu itu dapat dideskripsikan periodisasi sastra populer, yaitu, periode zaman kolonial, periode 1950-1968-an, periode 1970-1990-an, dan periode era reformasi.

    Sastra populer mulai dikenal pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di abad 19. Pada zaman itu sastra jenis itu bertemakan cerita-cerita tentang kehidupan para nyai, cerita-cerita gaib, dan cerita percintaan yang tidak jarang dimbumbui seks. Jenis bacaan tersebut ditulis baik oleh orang Cina-Melayu maupun pribumi. Bahasa yang digunakan pada sastra jenis tersebut adalah bahasa Melayu-pasaran (rendahan). Karya pertama yang mengawali bangkitnya sastra populer di masa ini salah satunya berjudul Sobat Anak Anak karya Liem Kim Hok. Bacaan ini dianggap hanya menampilkan cerita yang ringan dengan maksud menghibur.

    Tidak jarang pula para pengarang jenis ini menyelipkan ideologi tertentu. Contohnya pada fiksi yang ditulis R.M. Tirti Adhi Soerdjo yang memiliki kandungan paham komunis. Pada 1930-an, gejala karya sastra populer semakin menghangat dengan adanya terbitan “roman medan” yang kemudian dianggap sebagai roman picisan. Bacaan tersebut dikatakan murahan karena dalam isinya tidak mengandung kontemplasi yang serius, stereotip, dan dalam beberapa hal relatif mengeksploitasi seks.

    Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1949) karya sastra populer mulai surut karena kondisi yang sedang penuh dengan pergolakan politik dan sosial. Baru pada masa kemerdekaan (1950-1968), muncul novel-novel dan cerpen-cerpen dengan cerita yang didominasi oleh tema percintaan yang dibumbui sensualitas, detektif, dan kobi.

    Pada tahun 1970-an, bermunculan bacaan-bacaan yang dianggap populer seperti karya Abdullah Harahap (yang terkenal, misalnya Musim Cinta Telah Berlalu), Eddy D. Iskandar (Cowok Komersil, Gita Cinta dari SMA, Sok Nyentrik, Cewek Komersil), Teguh Esha (Ali Topan Anak Jalan), La Rose (Ditelan Kenyataan), Ike Soepomo (Kabut Sutra Ungu, Kembang Padang Kelabu), Marga T. (Karmila), Ashadi Siregar (Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, Frustasi Puncak Gunung). Yudhistira (Arjuna Mencari Cinta), dan sebagainya. Tahun tahun ini sastra populer mengalami pergeseran dari ciri sebelumnya. Sastra populer pada masa ini banyak ditulis kaum perempuan. Cerita-cerita yang mendominasi masa ini adalah masalah rumah tangga.

    Pada tahun 1980-an, muncul karya Hilman berjudul Lupus yang populer di masyarakat. Selain itu pada dekade ini dikenal para penulis sastra populer semacam Gola Gong atau Zarra Zetira. Pada tahun 1990-an, fiksi populer relatif cukup tenggelam karena mengalami persaingan yang cukup signifikan terhadap perkembangan televisi swasta. Pada dekade ini masyarakat lebih menggunakan waktu luangnya dengan menonton tayangan layar kaca seperti sinetron.

    Pada tahun 2000-an, sastra populer kembali berkembang dan beberapa karya sastra populer yang fenomonal kembali menduduki penjualan terbaik. Berbagai predikat dimunculkan dari penerbit untuk memperkuat segmen pembaca. Sebutlah istilah chick lit yang ditujukan untuk penggemar fiksi bertemakan percintaan perempuan dewasa, teen lit untuk kalangan pembaca remaja, atau fiksi islami khusus untuk pembaca muslim dengan tema dan nuansa religius yang tinggi. Beberapa karya dan penulis itu adalah Andrea Hirata dengan tetraloginya (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensol, dan Maryamah Karpov), Habbiburahman el Shirezy (Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta, dll), atau penulis remaja Rahmania (Eiffel Im In Love, Lost In Love, dll), serta Andre Laksana (Lelaki Terindah, Abadilah Cinta, dll)

    Pascaorde Baru, yang sering disebut era reformasi, berkembang pesat karya-karya sastra populer dengan motif-motif keagamaan atau yang diistilahkan Moh. Irfan Hidayatullah sebagai Ispolit-Islam Popular Literature (jenis ini telah dirintis sejak sebelum reformasi). Berkembang pula novel dan cerpen-cerpen remaja yang menceritakan perempuan kosmopolitan dengan keseharian kehidupan perkotaan dalam karya-karya chicklit dan teenlit. Jenis-jenis cerita yang ada pada era sebelumnya memang masih berkembang sekali pun tidak mendominasi. Namun, pada periode ini sastra populer tidak banyak diwarnai tema-tema kekerasan (kriminalitas). Hal itu terjadi barangkali karena tayangan-tayangan berita kriminal di televisi telah cukup "memuaskan" masyarakat.

    Sumber : wanasedaju.blogspot.com/2010/05/sastra-populer.html

Kirim pertanyaan kamu ke Pertanyaan.com atau berbagi pengetahuan kamu dengan menjawab pertanyaan dari teman-teman yang lain.

Gabung dan Daftar Disini